RELATIVITAS UPACARA KELAHIRAN BAYI DI KABUPATEN NGANJUK (KAJIAN BENTUK, MAKNA DAN FUNGSI)


Author (Penulis)

DESI WULANDARI
Universitas Nusantara PGRI Kediri

Author Identity (NPM)

13.1.01.07.0014

Abstract

ABSTRAK Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam masyarakat Jawa, terlihat berbagai simbol tindakan misalnya upacara pernikahan, perjodohan dan gotong royong.Selain itu tindakan-tindakan simbolis juga dilaksanakan bagi bayi yang masih di kandungan sampai lahir.Semua upacara adat tersebut dilaksanakan menurut kepercayaan masing-masing daerah.Adat istiadat merupakan sistem nilai dari suatu pranata sosial yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Permasalahan penelitian ini adalah (a) Bagaimanakah deskripsiupacara bentuk kelahiran bayi yang meliputi; kenduri, doa, pencukuran rambut pada kelahiran bayi(berokohan, sepasaran, selapanan) di Kabupaten Nganjuk. (b) Bagaimanakah deskripsi upacara makna kelahiran bayi yang meliputi; kenduri,doa, pencukuran rambut, pada kelahiran bayi(berokohan,sepasaran, selapanan) di Kabupaten Nganjuk. (c) Bagaimanakah deskripsi upacara fungsi kelahiran bayi yang meliputi; kenduri ,doa, pencukuran rambut, pada kelahiran bayi(berokohan, sepasaran, selapanan) di Kabupaten Nganjuk. Penelitian ini menggunakan pendekatan arketipal, antropologi budaya dan antropologi budaya.Pendekatan arketipal (archetypal Approach) muncul bertolak dan pemikiran bahwa sastra tidak hanya bagian dari kehidupan masyarakat modern atau kebudayaan maju, tetapi juga dikenal dan dimiliki oleh masyarakat yang belum maju, yang masih hidup dalam lingkup kebudayaan dikenal dan memberi pengaruh terhadap sastra dan kehidupan masyarakat yang telah maju.Sedangkan Antropologi budaya dan antropologi sastra adalah ilmu pengetahuan mengenai manusia dengan masyarakat dan Menurut Nyoman (2004:351) Antropologi sastra adalah studi mengenai karya sastra dengan relevansi manusia.penelitian ini tergolong sebagai penelitian kualitatif. Penelitian yang tidak menggunakan angka sebagai data. Tahap dalam penelitian ini meliputi: tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap pelaporan sedangkan sumber data dalam penelitian ini berupa data kata-kata atau tindakan orang-orang yang diwawancarai atau diamati. Sumber data utama adalah catatan hasil wawancara dan observasi dengan narasumber. Hasil penelitian ini menunjukkan deskripsi aspek simbolisme yaitu bentuk, makna, dan fungsi dari tata cara kelahiran bayi meliputi berokohan, sepasaran, selapanan. Sesaji dalam pelaksanaan rangkaian upacara kelahiran bayi memang tampak bahwa masyarakat Jawa me-miliki harapan-harapan keselamatan kepada si anak. Masyarakat Jawa menganggap tata cara kelahiran bayi yang meliputi berokohan, sepasaran, selapanan se¬bagai ritual yang patut diperhatikan secara khusus. Dengan demikian dapat dikata¬kan bahwa makna dan fungsi pelaksanaan tingkeban adalah: (1) untuk mewaris¬kan tradisi leluhur, agar tidak kesiku (mendapatkan marabahaya) dan (2) untuk men¬jaga keseimbangan, keselarasan, kebahagiaan, dan keselamatan (slamet, ora ono apo-apo) hidup yaitu kondisi aman tenteram tanpa gangguan makhluk lain atau alam sekitar. Selain itu, tradisi upacara kelahiran bayi bulanan menunjukkan karakter masyarakat Jawa yang berpikir asosiatif. Hakikatnya, tradisi ini adalah memohon keselamatan kepada Allah SWT agar anak yang telah dilahirkan sehat, selamat, dan selalu mendapatkan rezeki yang lancar. KATA KUNCI : upacara kelahiran bayi, simbolisme

Keyword

Upacara kelahiran bayi, simbolisme

Reference


PUBLISHED

2018-02-15

JOURNAL

Simki-Pedagogia

ISSN

2599-073X

ISSUE

Vol. 02 No. 06 Tahun 2018

Download PDF

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UN PGRI Kediri.

Jl. KH. Ahmad Dahlan 76 Mojoroto Kota Kediri

Designed by BootstrapMade